Foto : PRO/Ilustrasi
PRO.com | MEDAN – Begini ceritanya……….
Baru-baru ini, biaya melintasi Selat Hormuz menjadi perhatian setelah terungkap bahwa satu kapal dapat dikenakan tarif hingga sekitar Rp34 miliar untuk sekali perjalanan.
Biaya tersebut mencakup berbagai faktor, mulai dari asuransi risiko tinggi, pengamanan ekstra, hingga biaya operasional akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan tersebut.
Hal tersebut diketahui dalam proposal perdamaian yang dalam hal ini, Iran mengajukan syarat pengendalian Selat Hormuz kemungkinan tarif hingga US$2 juta stau sekira Rp34,19 miliar.
Namun, hal tersebut belum diakui AS.
Hingga kini, sejak diserang AS-Israel pada akhir Februari lalu, Iran membatasi lintasan kapal dan mewajibkan koordinasi militer.
Bahkan, sebagian kapal harus membayar biaya untuk mendapatkan jalur aman.
Rencana pungutan Iran menuai penolakan internasional karena dinilai melanggar hukum laut (Unclos).
Namun, operator kapal diperkirakan tetap mematuhi demi keselamatan.
Mengutip dari Strait Times, berdasarkan laporan terbaru Llyod yang tertera di situs Kemendag China mengatakan kapal-kapal sudah membayar US$2 juta untuk melewati Selat Hormuz.
Sebelumnya, selama krisis, hanya kapal-kapal dari negara tertentu yang diizinkan melintas, termasuk China.
Sementara kapal negara lain harus membayar biaya yang dilaporkan dalam mata uang Yuan.
Perkembangan terbaru, AS dan Iran telah menyepakati gencatan senjata selama dua pekan dan membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz.
Kesepakatan itu tercapai saat konflik memasuki hari ke-40.
Perundingan lanjutan menuju perdamaian dijadwalkan berlangsung di Pakistan pada Jumat (10/4) mendatang.
Namun, berdasarkan data pelacakan kapal, sangat sedikit kapal yang melewati jalur itu sejak AS dan Iran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan, pada Selasa (7/4).
Berdasrkan data dari perusahaan intelijen pasar Kpler menunjukkan hanya lima kapal yang melintas pada Rabu, turun dari 11 kapal sehari sebelumnya.
Sementara itu, tujuh kapal tercatat melintasi selat pada Kamis.
Menurut analis risiko perdagangan Kpler, Ana Subasic, pada Kamis (9/4), yang dikutib Al Jazeera, meskipun beberapa pergerakan kapal telah dilanjutkan, lalu lintas sangat terbatas, pemilik kapal akan tetap berhati-hati, dan kapasitas transit yang aman diperkirakan akan tetap terbatas maksimal 10 hingga 15 pelayaran per hari jika gencatan senjata bertahan, tanpa mempertimbangkan biaya tol.
Sementara itu, pada hari yang sama, Presiden AS (Donald Trump) menuding Iran tidak menjalankan komitmennya dalam membuka “jalur aman” selama masa gencatan senjata.
“Iran melakukan pekerjaan yang sangat buruk, bahkan bisa dibilang tidak terhormat, dengan membiarkan minyak melewati Selat Hormuz. Itu bukan kesepakatan yang kita miliki,” tulis Trump di media sosial.
Namun, Menteri Luar Negeri Iran (Abbas Araghchi) menilai, AS justru tidak menghormati kesepakatan.
Ia juga memperingatkan Washington harus memilih antara mempertahankan gencatan senjata atau membiarkan konflik berlanjut, merujuk pada serangan Israel di Lebanon.
“Dunia menyaksikan pembantaian di Lebanon,” kata Araghchi dalam sebuah unggahan di media sosial.
Untuk diketahui, perairan strategis dunia, Selat Hormuz, kembali menjadi sorotan global.
Jalur pelayaran yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab ini dikenal sebagai salah satu titik paling vital bagi distribusi energi dunia, khususnya minyak mentah.
Selat Hormuz merupakan jalur sempit namun sangat strategis yang dilalui oleh hampir sepertiga pasokan minyak dunia.
Negara-negara seperti Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab sangat bergantung pada jalur ini untuk ekspor energi mereka ke pasar internasional.
Kenaikan biaya lintasan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan politik dan keamanan di wilayah Timur Tengah.
Ancaman terhadap kapal tanker, potensi konflik militer, hingga pengawasan ketat dari otoritas setempat membuat perusahaan pelayaran harus mengeluarkan biaya tambahan yang signifikan.
Pengamat maritim menilai, lonjakan biaya ini berpotensi berdampak langsung pada harga minyak global.
Jika biaya distribusi meningkat, maka harga bahan bakar di berbagai negara juga bisa ikut terdongkrak.
Selain itu, perusahaan pelayaran internasional kini mulai mempertimbangkan rute alternatif, meskipun pilihan tersebut seringkali memerlukan waktu lebih lama dan biaya operasional yang tidak kalah besar.
Situasi di Selat Hormuz terus menjadi perhatian dunia internasional.
Stabilitas kawasan ini dinilai sangat penting untuk menjaga kelancaran pasokan energi global serta kestabilan ekonomi dunia. (red)
Sumber : CNN Indonesia
Editor/Publish : Antonius Sitanggang
Renungan :
Cara terbaik untuk menangani hari ini adalah selangkah demi selangkah.
