Peduli Rakyat | Medan – Begini ceritanya……….
Kapitalisme sering di artikan oleh banyak ahli yakni, sistem dan paham ekonomi (perekonomian) yang modalnya (penanaman modalnya, kegiatan industrinya) bersumber pada modal pribadi atau modal perusahaan swasta dengan ciri persaingan dalam pasaran bebas.
Baru-baru ini, Presiden Amerika, Donald Trump, dengan bangganya memuji Prabowo di dalam pidato nya dalam acara Board of Peace.
Pada kesempatan itu, sebelumnya Presiden Prabowo berpidato dengan tegas menyampaikan perdamaian yang nyata di jalur gaza dan Palestina.
Tetapi di lain hal, ada perjanjian perjanjian dagang yang di luncurkan oleh Trump dan Prabowo, di Washington sangat tidak apple to apple dengan kesepakatan point.
Indonesia mempunyai kewajiban 217 point ke Amerika.
Sedangkan berdasarkan referensi dari Koran Tempo, Amerika hanya mempunyai 6 point kewajiban ke Indonesia.
Artinya sebagai negara, Indonesia akan terus terdampak dengan kungkungan asing atau kapitalisme global dari negara adi kuasa seperti Amerika.
Negara kapitalis seperti amerika bukan tidak mungkin mencengkram total kedaulatan negara Republik Indonesia.
Refleksi kemandirian rakyat dan negara memang tidak pernah lagi terdengar setelah jatuhnya Presiden Sukarno.
Hanya sebuah falsafah falsafah yang terucap oleh Bung Karno yang kini dapat dijadikan alat untuk merefleksikan kondisi negara yang semakin di duduki saja oleh kapitalisme global.
Ketidakberdayaan negara hari ini, di sebabkan betul oleh rezim pemerintah yang tidak serius dalam memaknai sebuah negara.
Alhasil, rakyat semakin tercekik oleh realitas praktik yang sulit dijalankan oleh masyarakat hari ini.
Jaminan untuk hidup layak di negara yang subur ini, seperti semakin pupus karena pemerintah tidak menempatkan kepentingan rakyat diatas kepentingan nya.
Kapitalisme global benar sangat berbahaya bagi kelangsungan masyarakat yang kurang lebih berjumlah 240 juta jiwa dengan masih banyak yang hidup dibawah garis kemiskinan.
Dan negara sudah tidak lagi berdaya, apabila kapitalisme global ini benar-benar sangat mencengkram suatu negara apalagi negara berkembang seperti indonesia.
Inilah moment kita sebagai masyarakat yang peduli terhadap negara ini, agar kiranya mampu turut serta dalam arus politik yang kuat sebagai warga negara yang mungkin jenuh dengan hiruk-likuk tindak-tanduk yang di lakukan oleh rezim hari ini.
Agar kapitalisme global tidak lagi menjelma sebagai imperialisme yang menebar senyum tetapi mengeruk sumber daya alam yang ada di Indonesia.
Sebab itu pula mengapa rakyat harus berdiri tegak, menegakkan yang telah bengkok.
Melakukan sesuatu dan turut andil dalam setiap kesepakatan politik yang di lakukan oleh rezim ini.*****
Penulis : Citra Syuhada Tarigan, S.H
Editor/Publish : Antonius Sitanggang
Renungan :
Jika kapitalisme global merenggut kekuatan suatu negara, maka jawabannya bukan sekadar perlawanan emosional, melainkan kebijakan yang berdaulat, ekonomi yang berkeadilan, dan rakyat yang sadar akan hak serta tanggung jawabnya.
