Foto : PRO/Ilustrasi
PRO.com | MEDAN – Begini ceritanya……….
Di tengah dinamika penegakan hukum yang kerap menjadi sorotan publik, muncul sebuah pertanyaan reflektif yang menggugah nurani: “Jika suatu hari anak cucu bertanya, di saat hukum dibeli dan keadilan diperdagangkan, di pihak mana kakek berdiri?”
Pertanyaan ini bukan sekadar retorika, melainkan cermin dari kegelisahan masyarakat terhadap kondisi hukum yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada kebenaran.
Isu praktik jual beli hukum, mafia peradilan, hingga ketimpangan dalam penegakan keadilan masih menjadi perbincangan hangat di berbagai platform, termasuk dalam tren pencarian Google.
Masyarakat semakin kritis dalam menilai apakah hukum benar-benar ditegakkan secara adil atau justru tunduk pada kekuatan uang dan kekuasaan.
Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran akan masa depan generasi mendatang.
Ketika hukum tidak lagi menjadi panglima, melainkan alat transaksi, maka kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum dapat runtuh.
Dalam kondisi seperti ini, integritas aparat penegak hukum menjadi taruhan utama.
Pengamat hukum menilai bahwa keberanian untuk berdiri di pihak kebenaran menjadi kunci dalam menjaga marwah keadilan.
Tidak hanya bagi aparat, tetapi juga seluruh elemen masyarakat.
Sikap diam terhadap ketidakadilan dinilai sama berbahayanya dengan keterlibatan langsung dalam praktik pelanggaran hukum.
Lebih jauh, pertanyaan tersebut juga mengandung pesan moral yang kuat : setiap individu akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya di hadapan hukum, tetapi juga di hadapan sejarah dan generasi penerus.
Pilihan untuk berpihak pada keadilan atau sebaliknya akan menjadi warisan nilai yang dikenang.
Di era digital saat ini, di mana informasi begitu cepat menyebar, masyarakat memiliki peran penting dalam mengawal transparansi dan akuntabilitas.
Dukungan terhadap penegakan hukum yang bersih serta penolakan terhadap praktik korupsi menjadi langkah nyata dalam menciptakan sistem yang lebih adil.
Pada akhirnya, pertanyaan sederhana itu menjadi pengingat bahwa keadilan bukan sekadar konsep, melainkan sikap yang harus diwujudkan.
Ketika anak cucu kelak bertanya, jawaban terbaik bukanlah kata-kata, melainkan rekam jejak keberanian dalam membela kebenaran.*****
Penulis : Antonius Sitanggang
Editor/Publish : Antonius Sitanggang
Renungan :
Keadilan yang bisa dibeli bukanlah keadilan. Itu hanyalah bisnis berkedok hukum.
