Foto : PRO/Ilustrasi
PRO.com | MEDAN – Begini ceritanya……….
Perang dengan Iran menganggu aliran minyak global, merusak infrastruktur energi dan meningkatkan kekhawatiran akan konflik yang berkepanjangan.
Namun, harga emas yang biasanya dianggap sebagai aset aman atau safe haven selama periode ketidakpastian ekonomi, telah merosot.
Mengutip CNN, Sabtu (21/3/2026), harga emas turun 11% pekan ini, mencatat kerugian mingguan terbesar sejak 1983.
Logam mulia ini telah turun lebih dari 14% sejak perang dimulai.
Adapun harga emas turun 0,7% menjadi USD 4.574,90 per ounce pada Jumat, 20 Maret 2026.
Sejumlah faktor global dan sentimen pasar menjadi pemicu utama anjloknya harga emas, mulai dari penguatan dolar Amerika Serikat hingga aksi ambil untung oleh investor besar.
Penguatan Dolar AS Jadi Faktor Utama
Salah satu penyebab utama turunnya harga emas adalah menguatnya dolar Amerika Serikat.
Ketika nilai dolar naik, harga emas menjadi relatif lebih mahal bagi investor global sehingga permintaan menurun.
Selain itu, indeks dolar yang terus menguat dalam beberapa hari terakhir turut menekan harga emas hingga mengalami koreksi signifikan.
Ekspektasi Suku Bunga The Fed
Kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (The Fed) juga ikut memengaruhi.
Harapan bahwa suku bunga tidak akan segera diturunkan membuat investor beralih ke instrumen berbunga seperti obligasi.
Kondisi ini membuat emas, yang tidak memberikan imbal hasil, menjadi kurang menarik di mata investor.
Aksi Ambil Untung (Profit Taking)
Setelah mengalami kenaikan tajam sebelumnya, banyak investor melakukan aksi ambil untung.
Tekanan jual ini membuat harga emas terkoreksi cukup dalam dalam waktu singkat.
Fenomena ini umum terjadi dalam siklus pasar, terutama setelah harga mencapai level tinggi dalam waktu cepat.
Sentimen Pasar dan Ketidakpastian Global
Meskipun ketegangan geopolitik masih terjadi, pasar cenderung fokus pada likuiditas dan kekuatan dolar.
Bahkan dalam beberapa kasus, kebutuhan likuiditas membuat investor menjual emas untuk menutup posisi lain.
Di sisi lain, meredanya kekhawatiran ekonomi global dalam jangka pendek juga mengurangi daya tarik emas sebagai aset safe haven.
Tekanan Jual dan Panic Selling
Dalam beberapa hari terakhir, pasar juga diwarnai aksi jual besar-besaran atau panic selling yang mempercepat penurunan harga emas hingga lebih dari beberapa persen dalam waktu singkat.
Apakah Harga Emas Akan Terus Turun?
Meski mengalami penurunan dalam sepekan, banyak analis menilai kondisi ini hanya koreksi jangka pendek, bukan tren penurunan permanen.
Dalam jangka panjang, emas masih didukung oleh faktor fundamental seperti inflasi global, ketidakpastian ekonomi, dan perannya sebagai aset lindung nilai.
Kesimpulan
Anjloknya harga emas selama sepekan dipicu oleh kombinasi faktor global, antara lain:
- Penguatan dolar AS
- Kebijakan suku bunga The Fed
- Aksi ambil untung investor
- Tekanan likuiditas dan sentimen pasar
- Panic selling di pasar global
Bagi investor, kondisi ini bisa menjadi peluang untuk masuk di harga lebih rendah, namun tetap perlu mencermati dinamika pasar global yang sangat fluktuatif. (red)
Editor/Publish : Antonius Sitanggang
